Falsafah hidup orang jawa dari jaman dahulu hingga sekarang masih sangat kental terbenam di hati masyarakat yang menduduki pulau jawa ini, memang mereka masih banyak yang menganut ajaran yang biasa dibawa oleh nenek moyang mereka.

Jika sekarang kita bisa menjumpai motivasi dari orang sukses dunia yang selalu muncul di internet maupun media lainnya untuk memberikan motivasi hidup, berbeda dengan orang jaman dahulu yang selalu menerapkan falsafah hidup manusia jawa pada jaman dahulu.

Memang setiap orang akan memiliki masalah sendiri baik rintangan sesama manusia maupun dengan hati kita sendiri yang kadang malas untuk mengerjakan yang baik. Namun jika kita melihat beberapa falsafah orang jawa dahulu bisa kita ambil hikmahnya pada jaman sekarang dan bisa menjadi acuan hidup kita agar dapat hidup lebih tenang, apa saja falsafah hidup tersebut kita simak berikut ini.

Falsafah Hidup Orang Jawa Jaman Dahulu

falsafah hidup falsafah hidup Falsafah Hidup Orang Jawa Jaman Dahulu Sebagai Motivasi Pasar Tandjung  4

Ojo Kuminter Mundak Keblinger, Ojo Cidra Mundak Cilaka

Maksud dari kata diatas adalah jangan merasa sok pandai nanti salah arah dan jangan pernah bermain curang agar tidak celaka, dari falsafah hidup tersebut memang benar kita sebagai manusia bisa menerapkan hukum prinsip alam, jika kita berbuat baik maka balasan yang kita dapatkan akan baik pula, namun jika berbuat buruk balasan yang kita dapat akan buruk pula.

Steve Jobs dalam bukunya pernah berkata jadilah orang bodoh yang haus akan ilmu pengetahuan agar kita selalu mencari ilmu dari yang lain dan terus memperbaiki diri. Salah satu orang terkaya di Asia Li Ka Shing mengajarkan pembagian uang menjadi lima bagian yang salah satunya untuk mendapatkan ilmu baru dengan belajar atau membeli buku untuk menambah ilmu baru.

Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Digdaya Tanpa Aji, Sugih Tanpa Bandha

Arti dari falsafah hidup di atas adalah sebagai berikut, Ngluruk tanpa bala yang artinya menyerang tanpa pasukan, disini dimaksudkan agar kita tidak terhasut dengan kebanyakan orang ikuti, menang tanpa ngasorake artinya ketika kita mendapatkan kemenangan tanpa merendahkan orang lain, digdaya tanpa aji artinya kekuasaan tanpa harta, kekuatan ataupun keturunan, kekuasaan disini didapat karena wibawa, citra, perilaku dan jiwa kemimpinan yang membuat orang menghargainya.

Sugih tanpa bandha yang artinya kaya tanpa harta, maksudnya seseorang yang kaya tidak bisa diukur dengan harta yang ia miliki, namun kaya akan sosial, kaya akan ilmu, bahagia dan sebagainya.

Urip Iku Urup

Maksud dari falsafah hidup diatas adalah hidup itu menyala, menyala dengan penuh semangat dalam menjalani hidup, rintangan yang ada kita hadapi dengan penuh semangat, karena semua yang kita hadapi pasti ada hikmahnya.

Urup disini bisa berarti menukar, saling bantu membantu terhadap sesama, berjiwa sosial dengan yang lain dan saling menolong, karena hidup merupakan sebuah pemberian dari yang maha kuasa.

Sura Dira Jaya Jayadiningrat, Lebur Dening Pangastuti

Maksud dari falsafah hidup di atas adalah segala bentuk kemungkaran dapat diatasi dengan kelembutan hati, jika ada orang yang berbuat tidak baik atau jahat kepada kita, mari kita balas dia dengan kebaikan.

Ojo Gumunan lan Kagetan, Ojo Getunan lan Aleman

Maksud dari falsafah hidup di atas adalah kita sebagai seseorang jangan mudah kagum dan memuji berlebihan terhadap seseorang karena semua pujian hanya milik Tuhan.

Ojo getunan lan aleman artinya jangan mudah kecewa maupun menyesali keadaan dan jadi orang manja, karena memang dalam hidup kadang di atas kadang juga di bawah, kita sebagai manusia hanya terus berusaha agar mendapatkan balasan yang setimpal.

Baca Juga : Foto Negara Jepang Pada Jaman Dahulu

Itulah beberapa falsafah hidup orang jawa jaman dahulu yang dapat digunakan sebagai #motivasi hidup kita sekarang. Sebagai manusia kita hanya perlu berbuat baik agar balasan yang kita dapat juga baik untuk diri sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here